Sabtu, 19 Maret 2011

Langkah Dua bidadari ^_^

Indonesia, ya Indonesia patut bangga karna mempunyai anak bangsa yang begitu menghargai kebudayaan bangsa, entah itu bangsa nya sendiri ataupun bangsa lain.Anak bangsa itu ialah Fatimah dan Aisyah. Inilah kisah dari 2 anak bangsa.

Dikelas 8.A , 24 Februari 1999

“Untuk dua minggu ibu menugaskan kalian untuk membuat daur ulang kertas . Bisa di beri warna dengan pewarna alami seperti kunyit : kuning, daun suji: hijau,daun jati: merah. Pewarna alami ini akan lebih tahan lama jika di bandingkan dengan pewarna buatan. Kemudian hasil dari daur ulang kertas tersebut dapat kalian jadi kan benda-benda bermanfaat seperti note’s. Mengerti anak-anak?” kata ibu guru. “ Ibu itu tugas individu atau kelompok?” Tanya Aisyah. “ Itu tugas individu Fatimah” kata ibu guru. “ Ibu aku yang Fatimah, itu Aisyah bu” seru Fatimah. “ Oh...maaf , abis hari ini kalian menggunakan jilbab yang sama, ibu jadi bingung. hehehe maaf ya” ibu guru tersipu malu.

Bel pulang sekolah pun berbunyi, seperti biasa Fatimah pulang sekolah bersama Aisyah. Sebelum pulang sekolah tak lupa mereka melangkahkan kaki ke Musholah untuk melaksanakan sholat zuhur. Kemudian mereka bergegas mengambil sepedah di pekarangan sekolah.

Di jalan pulang.....

“Syah, kok tugas kita banyak banget ya. Pada numpuk ni, rasanya ingin banget selesai dalam sekejap” ucap Fatimah. “Yeeee kamu ini gimana sih! mana mungkin bisa seperti itu” kata Aisyah. Ketika mereka sedang asyik mengayuh sepedah sambil berbincang-bincang. Mereka melihat ada seorang kakek tua sedang mendorong gerobak dagangannya yang berisikan daun singkok. “ Kamu mau apa kak?” tanya Aisyah, namun di hiraukan oleh Fatimah. Fatimah lekas turun dari sepedahnya dan menghampiri kakek tua itu. “ Kek, jualan nya masih banyak sekali” kata Fatimah, “ Iya, adek mau membelinya?”tanya sang kakek.” Iya kek, berapa semuanya kek?” “ Semuanya jadi Rp.5000” jawab sang kakek. Seberkas senyuman melengkung indah di muka tuanya itu.

Dan itulah Fatimah , ingin selalu membuat orang disekitarnya tersenyum. “Maaf ya, membuat mu menunggu” kata Fatimah, Aisyah pun tersenyum bangga memiliki sahabat dan kakak seperti Fatimah.Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Rumah mereka cukup jauh dari sekolah, tetapi mereka lebih memilih untuk menaiki sepedah ke sekolah, ketika mereka mengayuh sepedah di jalan raya.

Pimmmmmmm pimmmmmm.......pimmmmm.....

“ Kok macet ya kak. Tidak biasanya” kata Aisyah. “ Iya nih!” kata Fatimah, “kak, coba lihat. Ada yang terjatuh dari motor,ibu ibu kak....ayo kak kita lihat” seru Aisyah. Aisyah menghampiri warga sekitar yang ada di area kecelakaan dan ia bertanya, “ apa yang terjadi pak, mengapa ibu ini bisa terjatuh dan tak sadarkan diri? mana orang yang membuat kecelakaan ini terjadi?” “ Ibu ini terjatuh dari motor karena di serempet mobil dek, ehhh mobil itu malah kabur” jawab warga sekitar. “ Kenapa tidak di bawa ke dokter? ayo sekarang kita bawa saja” seru Aisyah kepada warga sekitar

“ Kakak pulang duluan saja, nanti aku pulang kok kak” kata Aisyah, “ Nanti kamu gimana dek?” tanya Fatimah yang khawatir dengan adiknya, “ Aku bisa sendiri kok kak, kakak hati-hati di jalan . Tolong bilang ke ibu ya kak” kata Aisyah. Aisyah pun langsung menghentikan taksi dan membawa ibu itu ke rumah sakit....

Itulah Aisyah , seorang anak yang pemberani.

“ Assalamualaikum ibu, aku pulang” salam Fatimah. “ Waalaikum salam wr wb. Looh kak , mana Aisyah?” tanya ibu. “ Aisyah , lagi nolongin orang bu yang kecelakaan . Adek membawanya ke rumah sakit bu” jelas Fatimah. “ Bu, aku tadi lihat kakek tua yang berjualan . Aku beli deh bu dagangannya, ini bu.... kakek itu jualan daun singkong bu” kata Fatimah. “ Terimakasih sayang....” kata ibu.

45 Menit kemudian.....

“ Assalamualaikum ibu aku pulang” salam Aisyah, “ Wa’laikum salam wr wb. Wah... ayo cepat ganti baju lalu kita makan bersama ya” Senyuman indah ibu nampak membuat seisi rumah sejuk. “ Loh ibu dan kakak memangnya belum makan?” tanya Aisyah. “ Ya belum lah dek, kan kita nunggu kamu. Aku bangga banget punya adik seperti mu” Fatimah langsng merangkul adik semata wayangnya itu. “ Hahahaha ah kakak aku jadi malu aku juga bangga punya kakak seperti mu.” kata Aisyah. “ Hmmmmm ibu lebih bangga lagi dari kalian. Karna ibu mempunyai bidadari-bidadari yang bening hatinya seperti kalian” Sambung ibu. Dan mereka pun berpelukan .

Sore hari taman rumah....

“ Kak, cari dimana coba. pewarna alaminya, kayak daun suji dan daun jati. Kita kan tinggal di komplek, sulit untuk mendapatkannya.” Kata Aisyah, “ Hmmmm,Syah aku punya ide. Gimana kalo kita ke kampung sebelah komplek kita aja.” kata Fatimah, “ Benar tuh kak, ayo kita minta izin sama ibu dulu” seru Aisyah.

“ Ibu....ibu...” rayu Fatimah, “ ada apa?” kata ibu. “ Ibu kita mau jalan –jalan keliling kampung, boleh ya?” Fatimah dengan tampang merayunya. “ Hmmm, boleh tapi pulangnya jangan sampai jam 5.30 ya” kata ibu. “ Asyik...” Seru kakak adik itu.

“ Kak , memangnya kakak tahu yang mana daun suji dan daun jati itu?” tanya Aisyah. “ Kakak tidak tahu,hehehe” jawab Fatimah. “ Trus kita gimana dong! aku kira kakak tahu” kata Aisyah. “ Kita tanya penduduk kampung ini saja” ajak Fatimah. “ Kak, coba lihat di sana , banyak anak-anak sedang bermain. Ada yang bermain layang-layang, karet, masak-masakan,kelereng. Enak ya kak tinggal di kampung, bisa punya banyak teman. Trus bebas deh,mau kotor-kotoran juga gak apa-apa” kata Aisyah. “ Iya enak, tapi kita juga harus bersyukur dek bisa tinggal di komplek. Banyak orang yang ingin tinggal di rumah senyaman rumah kita, yang gak ada nyamuknya. Pokoknya kita banyak-banyak bersyukur deh sama Allah SWT.” kata Fatimah, “ Iya kak, kak kita tanya sama anak yang sedang main karet saja yuk” ajak Aisyah.

“ Assalamualaikum.... permisi” kata Aisyah. “ Wa’laikum salam wr wb, wah kamu kan anak komplek ngapain main ke sini?”jawab ketus salah satu anak yang sedang bermain. “ Kami ingin mencari daun suji dan daun jati. Kami ingin minta tolong kepada kalian untuk menunjukan kepada kami tentang daun itu” kata Fatimah. “ Tapi bayar ya.”jawab anak yang ketus tadi . “ Kamu apa-apaan sih Dewi , gak boleh seperti itu mereka membutuhkan bantuan kita tau. Ayo sama saya saja, saya akan menunjukannya” Kata salah satu anak.

“ Oia perkenalkan nama saya Citra, kalian siapa ya?” tanya Citra. “ Saya adalah Fatimah dan ini adik saya Aisyah” kata Fatimah. “ Wah kalian mirip sekali , saya sampai tidak bisa membedakannya.”Kata Citra.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya sampailah Fatimah dan Aisyah ke tempat yang mereka tuju. “ Inilah daun suji” kata Citra “ Oh ini, seperti daun pandan wangi ya.” kata Aisyah. “ Bolehkah kita memetiknya ?” tanya Fatimah ragu. “ Tentu saja boleh , daun suji ini tumbuh liar di kampung ini. Silahkan” kata Citra. “ Kemudian kami mencari daun jati Cit.” kata Aisyah, “ Oh, daun jati. Pohonnya ada di belakang rumahku”

Di perjalanan menuju rumah Citra....

“ Citra kenapa si, kok anak-anak yang tadi tidak suka sekali kami main ke kampung ini?” tanya Fatimah. “ Karna dulu sebelum komplek ini ada, itu adalah tanah dimana saya dan teman-teman saya bermain. Tanah itu adalah hamparan rumput yang begitu luas, anak anak bisa belajar bersepedah dari lapangan itu, bermain layang-layang, bermain sepak bola dan kompetisi-kompetisi pun sering di laksanakan di situ. Jadi mereka merasa kalian telah mengambil tempat bermainya.” jelas Citra “ Oh gitu, pantas saja mereka begitu marah” kata Aisyah . “ Nah ini dia pohon jatinya” kata Citra sambil menunjuk daun jati raksasa itu. “ Terima kasih ya cit, sudah bantu kita. Kapan-kapan kita boleh main lagi gak?” Tanya Fatimah “ tentu saja boleh” kata citra. “ Kak sudah jam 05.15 , ayo kita pulang kan kita sudah berjanji sama ibu tidak pulang lebih dari jam 05.30” Ajak Aisyah. Dan pada akhirnya mereka pulang dengan rasa senang yang menyelimuti hati mereka.

hari Minggu 7 Maret 1999 di taman belakang rumah.

Tuggg tuggg tuggg tugg tuggg.....(mengulek)

zret zret zret zret.....(memarut)

“ Alhamdulillah kak, sudah selesai. Hanya menunggu kering saja nih!” kata Aisyah, “ Iya, oia kalo sudah kering kamu mau menjadikannya apa?” tanya Fatimah. “ sepertinya aku akan menjadikannya diary kak, memangnya kakak mau menjadikan nya apa?” kata Aisyah. “Sepertinya aku akan membuat note book”jawab Fatimah.

Setelah pembuatan kertas daur ulang itu, mereka semakin giat untuk mendaur ulang barang barang yang masih dapat di gunakan lagi, seperti bungkus snack, kaleng susu, koran-koran. Hingga terbentuk lah sanggar kreativitas 2 bidadari, ayah dan ibu mereka sangat mendukung kreativitas anak-anaknya, sehingga mereka memfalitasinya dengan sanggar ini. Sanggar 2 bidadari di buka untuk umum, sanggar itu di bangun di perkampungan. Sebagai rasa keperdulian mereka dengan kreativitas, potensi,bakat, dan alam kita ini.

Juni 2001

“ Ibu kami pergi dulu ya, assalamualaikum” salam Fatimah dan Aisyah. “ Dah kakak.... sampai bertemu di rumah” kata Aisyah berpamitan. Ya, mereka kini telah duduk di bangku SMA , dan saat ini sekolah mereka pun berbeda. Entah mengapa hal itu bisa terjadi, tapi itu adalah yang terbaik yang di berikan Allah SWT kepada mereka.

“ Ibu ayah , sekolah ku mengadakan study tour. Rencananya akan pergi ke Manado”kata Fatimah. “ Sekolah ku juga , yang aku tahu akan study tour ke Papua bu” kata Aisyah. “ Wah tanggal berapa dek sekolah mu?” tanya Fatimah “ Kalo gak salah tanggal 7 bulan September” jawab Aisyah. “ Lohh kok bisa sama gitu ya! sekolah ku juga” kata Fatimah . “ Nanti ibu dan ayah kesepian dong gak ada kita . hahahaha” Canda mereka berdua berbarengan. “ Wah tenang saja itu sih soal gampang, kita tinggal mungut anak ya bu.” Canda ayah.

Tanggal 7 September 2002 ....

Mariii kita ikuti perjalanan Fatimah terlebih dahulu menuju Manado....

“ Assalamualaikum ibu, sekarang aku udah sampai di bandara SAM RATULANGI bu....” kata Fatimah yang menelpon ibunya. “ Wa alaikum salam, senangnya sudah sampai dengan selamat. Hati-hati ya di sana. memangnya hari ini kamu mau kemana dulu?” tanya ibu. “ Aku ke hotel dulu bu,” “ Ya sudah, jangan lupa minum vitamin nya ya...”

Di sanggar kebudayaan.....

“ Bu, memangnya apa sih bahasa yang digunakan masyarakat Manado ?” Tanya Fatimah kepada ibu guru. “Bahasa yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Manado dan wilayah sekitarnya disebut bahasa Melayu Manado. Bahasa daerah Manado menyerupai bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang khas.” jelas ibu guru. Tak lama kemudian teman Fatimah yang bernama Gaza bertanya “ Bu , mayoritas penduduk Manado itu beragama apa?” “. Mayoritas penduduk kota adalah pemeluk agama Kristen atau Katolik. Hal itu jelas dapat dilihat dari banyaknya gereja-gereja di seantero kota” Jelas ibu guru . “ Bu, kalo yang paling terkenal dari daerah Manado itu apa bu?” “masyarakat Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia. ".jawan ibu guru. “ Ibu

Setelah berbincang-bincang mengenai Manado di sanggar kebudayaan , mereka pun belajar untuk memainkan alat musik tradisional kolintang tersebut.....Hari berikutnya Fatimah dan teman-teman, serta guru-guru nya. Pergi ke suatu tempat untuk menikmati makanan khas Manado . “Ennnnnakkkkk sekali.....” kata Fatimah. Kemudian dia menelpon ibu dan menceritakan makanan yang baru dia nikmati dari Manado “ Assalamuaaikum ibu...” “ Waalaikum salam” jawab ibu “ ibu aku baru nyoba makanan khas Manado loooh bu, makanan nya itu banyak..” kata Fatimah “ Wahhh enaknya yang lagi makan.”kata ibu.

“ ahahahahahah ibu bisa aja, Oh iya bu hari ini aku juga pergi ke pantai Malalayang bu, Keunikan dari Pantai Malalayang adalah, jika biasanya kita menemukan kondisi pantai yang mempunyai pasir putih yang gemilau, dengan ombak laut bergelombang, maka pesisir pantai dipenuhi dengan batu-batu hitam dan keras, yang juga menarik untuk didekati dan dilihat.” kata Fatimah “ Indah nyaaaaa, kapan kapan kita kesana ya” kata ibu “ Ibu besok aku mau ada surfing di Bunaken yang eksotis itu bu” “ Hati hati saja ya sayang” kata ibu.

Keesokan harinya.......

“ Ha hah hah ahah.... hey kawan, subhanaallah indah sekali ya. Ikan nya lucu-lucu lagi kayak aku” kata Fatimah. “ woooo pede banget kamu ikan itu lucu tapi gak kayak kamu” kata salah satu teman Fatimah.

Mari kita ikuti perjalanan Aisyah menuju Papua....

“ Assalamualaikum Ibu, aku sudah sampai di bandara Papua. Alhamdulillah bu aku selamat di perjalanan” seru Aisyah melalui handphone. “ Waalaikum salam , alhamdullilah. Sekarang lagi mau kemana dek?” tanya ibu. “ Adek lagi mau ke hotel dulu bu. Adek capek banget bu.” keluh Aisyah. “ Wah, masa ngeluh sih my angel.”kata ibu, “ ibu bisa aja. Udah dulu ya bu, nanti aku kabarin ibu lagi. Wassalamualaikum.” “ Waalaikum salam” . Lega rasa hati ibu, setelah mendengar kabar dari bidadari-bidadarinya.

2 Hari kemudian

“ Aisyah cantik, apakabar? seru gak di sana? kakak, seru loh di Manado. Kapan-kapan kita ke Manado bareng ya, kakak nambah pengetahuan loh dek disini. Apalagi Bhunakennya keren banget.” pesan singkat yang Fatimah kirimkan untuk Aisyah untuk terakhir kalinya.

Manokwari, 10 September 2002

Panas menerjang perjalanan Aisyah dan kawan-kawan dalam menelusuri perkampungan penduduk untuk melakukan observasi mengenai perkembangan zaman di pedalaman Papua. “ Huh... masa hape ku gak ada sinyalnya! nyebelin banget deh, kan aku mau talking-talkingan sama kakak ku” keluh Aisyah kepada teman-temannya yang hanya mengangguk mendengar berbagai macam celotehan Aisyah sambil meneruskan perjalanan mereka.

Sampailah mereka pada kecamatan setempat. Tanpa sungkan Aisyah langsung mewawancarai narasumber yang berperan sebagai bapak camat. Setelah selesai berwawancara Aisyah dan teman-teman, mendiskusikan hasil wawancara tersebut. “ Kawan-kawan, menurut bapak camat, perkembangan zaman di Manokwari sudah mulai berkembang itu di karenakan wisatawan yang datang ke daerah tersebut untuk berwisata.” kata Aisyah. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju hutan, untuk melakukan konservasi hutan. “ Ayo ayo teliti baik baik, oh iya jangan sampai merusak hutannya yap kawan ku” seru Rina teman Aisyah. Perjalanan mereka terjal, mereka harus melewati sungai –sungai ,jurang,bebatuan. Namun dari situlah semua bermula, “ Aisyah dimana bu guru?” tanya Rani. “ Loh bukannya tadi Aisyah bersama kamu Ran?” “ Tidak bu.... dimana Aisyah bu? Tadi Aisyah mengawal di belakang, kan saya mengawal depan bu. Duhhhh Aisyah” cemas Rani. “ Ibu pun tidak mengetahui nya Ran”

Di Hotel Star, Manado

“ Ih Aisyah lagi dimana sih? Kok gak terkirim ya sms ku, ih bikin aku khwatir aja” kesal Fatimah. Fatimah yang sedang menonton tv sebagai pelepas lelah , langsung terkejut menonton berita bahwa polisi telah menangkap 3 oarang yang terselubung dalam perdagangan manusia. Sedang 3v orang lainnya berhasil melarikan diri dan menjadi buronan polisi. Polisi menangkap basah para penculik tersebut ketika sedang melakukan operasinya, mereka menculik seorang remaja perempuan kemudian mereka membunuhnya dan mengambil organ dalam remaja tersebut untuk memudian mereka jual. Semakin khawatirlah Fatimah setelah melihat berita tersebut.

Di Manokwari , para guru pun telah berusaha mencari Aisyah semampu mereka dan memanggil polisi. Namun Aisyah belum di ketemukan. Ibu Nani selaku pembimbing Aisyah langsung menelpon keluarga Aisyah. Semua keadaan menjadi runyam, dimanakah keberadaan Aisyah. Fatimah sungguh tak ingin ke hilangan adiknya, perasaan sedih dan khawatir selalu menyelimuti hari hari keluarga mereka.

Sudah 5 hari Fatimah pulang ke Jakarta sebelum waktu yang di tetapkan. Tak ada yang bisa menghalangi ke inginan Fatimah untuk terjun langsung mencari Aisyah, “ Adek, kakak yakin adek adalah anak yang pemberani. Dimana adek sekarang? kakak takut, kakak tak ingin adek pergi meninggalkan kakak” . Pada akhirnya Fatimah dan keluarga mencari Aisyah langsung ke Papua. Mereka menelusuri hutan, namun hal tersebut tak berarti sedikit pun untuk mendapatkan Aisyah kembali. Dinyatakanlah bahwa Aisyah di culik, kemungkinan besar penculikan remaja. Sungguh Fatimah , Ibu, dan ayah sangat khawatir tak ada yang dapat mengira akan terjadi seperti ini.

2004

Bertahun-tahun mereka mencari Aisyah namun tak jua bertemu, hingga Fatimah dinyatakan lulus dari bangku SMA. suatu hari Fatimah teringat akan impian rahasia yang Aisyah dan Fatimah pendam di pekarangan rumah, surat rahasia itu akan mereka buka pada saat mereka lulus SMA nanti. Namun semua kini telah berubah Aisyah entah berada di mana, surat yang mereka pendam semenjak SD kelas 3 kini tak berarti lagi. “ Tidak... aku harus membukanya , aku harus menggali surat itu . aku ingin mewujudkan impian Aisyah, aku tak mau mengecewakan adik ku”

10 September 2002

“ Tolong......” teriak Aisyah. “ Jangan kau berteriak macam itu. Kau akan kami bawa ke Brazil dan akan kami jual kau. hahahaha” kata salah seorang penculit tersebut. “ Aku tidak mau, aku tidak mau, Ya Allah bantu aku... apa yang harus aku lakukan. Ibu, aku takut.( Kamu tak boleh menjadi anak yang menakut nak, Allah akan selalu bersama mu. Ibu yakin itu, janganlah lupa untuk selalu beribadah ya sayang. Aisyah harus menjadi anak yang pemberani dalam kebenaran seperti Aisyah dulu, jangan takut ya nak) Selintas ucapan ibu terdengar menyejukan hati Aisyah, kata-kata ibu pembangkit jiwa Aisyah. “ Ibu.... aku harus berani bu, aku akan menjadi anak yang berani bu. Ya Allah lindungilah aku” “ Hehhh berisik lu... pake Ya Allah ya Allah segala , tuhan tuh gak ada disini tau. Lu mau ngadu kayak apa juga gak bakal di denger” kata Salah satu penculik. “ Astagfirullah, ya Allah . Insyaallah aku akan sabar dan ikhlas menerima apapun yang engkau berikan, aku yakin Engkau akan memberikan yang terbaik bagi ku.” Selama perjalanan darat dan udara menuju Brazil Aisyah tak lupa untuk selalu beribadah dan meminta pertolongan Allah. Hingga salah seorang penculik yang bernama Doni pun tersentuh melihatnya , Aisyah memanggilnya Pak Doni. Pak doni mendekati Aisyah dan berkata, “ Nak , kamu mengingatkan saya pada anak saya. Sungguh saya tidak tega membunuh mu nak.” “ Tolong lah pak, bantu saya.” “Baiklah , saya akan membantumu” setuju pak doni. Mereka pun menyusun misi untuk menyelamatkan Aisyah.

Jakarta, 15 Mei 2006 musim penghujan

Sruggg sruggg sruggg... Suara Fatimah yang sedang menggali tanah. “ Adek, kakak mau mewujudkan impian adek. Kakak sungguh merindukan adek.” Tak lama kemudian Fatimah meraih sebuah kaleng susu dan membukanya.

Impian Aisyah : “ Aisyah pengen supaya kakak jadi seorang menteri. Adek gak tau nama menterinya apa kak, tapi adek maunya kakak jadi menteri yang perduli dengan kebudayaan dan orang-orang miskin. Kalo nanti adek udah gede, adek mau jadi Presiden ah. hmmm tapi kan presiden amanahnya besar banget, gak jadi deh . kalo udah besar adek mau selalu menemani kakak meraih impian-impian kakak.”

Tak henti hentinya Fatimah menangis setelah membaca impian langit Aisyah . “ Loh kakak kenapa?” tanya ibu “ Ini bu, ini impian Aisyah ketika Aisyah dan kakak masih kecil dulu.”jawab Fatimah “ Subhanaallah” seru ibu “ Ibu yakin , Insyaallah Aisyah akan tumbuh menjadi gadis yang pemberani entah dimana dan bagaimana ia sekarang.

11 September 2002

“ Dimana anak itu sekarang?” Komandan penculik itu amat marah ketika mengetahui Aisyah kabur. Aisyah kabur begitu mereka sampai di Brazil tepatnya ketika mereka keluar dari bandara. “ Saya tidak tau bos” jawab salah seorang penculik. “ Tidak tahu, tidak tahu gimana sih. udah susah susah kita bawa dia ke sini. Lu tau gak harga tuh anak bakal tinggi banget disini.” kata bos penculik. Sementara Aisyah langsung kabur dengan menaiki bis menuju Rio de Janeiro, Rio de Janeiro adalah adalah daerah kumuh di negara Brazil. Sepanjang 3 tahun ini, Aisyah di bantu oleh seorang anak kecil yang bernama Syaina. Aisyah tinggal bersama Syaina di perkampungan kumuh tersebut. Aisyah bekerja sebagai kuli, namun karna tekatnya yang keras Aisyah berusaha merantau bersama Syaina ke kota besar, bersyukurlah Aisyah karna sejak kecil Aisyah sangat cerdas dalam berbahasa Inggris . So, no problem...

Aisyah bekerja dan bekerja , ia menabung agar dapat pulang ke Indonesia. Banyak sekali yang dapat ia pelajari dari Brazil, pemerintahan Brazil yang memperdulikan wisata bagi rakyat miskin . Ingin ia menceritakannya pada Fatimah, Aisyah tumbuh menjadi gadis yang cantik bermata indah dan aura kedamaian selalu bersamannya bersama hijab yang ia kenakan. Menteri kebudayaan , itulah impian Aisyah untuk kakak nya. Dan kini impian langit tidak sekedar menjadi sebuah impian kini impian langit tersebut telah menjadi kenyataan. Tak kalah cantiknya dengan Aisyah, Fatimah pun bermata indah dengan hijab terurai. Kini Fatimah telah menelusuri berbagai negara untuk memperjuangkan kebudayaan. “Kebudayaan Indonesia dapat kita banggakan adek” kata-kata yang slalu di berikan Fatimah untuk Aisyah.

Brazil, 12 Desember 2008

“ Kak Aisyah , tadi siang kok kakak pakai pakaian yang bagus banget sih terus naik mobil mewah lagi” kata Syaina. “ Aduh aku gak ngerti, dari tadi kan aku disini, lagi pula man mungkin aku pake pakaian yang bagus apalagi bisa baik mobil mewah.” “ Tapi ini beneran kak tadi aku liat kakak” “ Kamu ini, mungkin tadi kamu kecapean jadi salah liat”. Tak salah lihat, Syaina memang melihat orang yang mirip dengan Aisyah. Ya, dialah Fatimah kini Fatimah berada di Brazil untuk melakukan study banding negara.

Malam hari

“ Syaina, tadi kamu melihat orang yang mirip dengan ku dimana?” tanya Aisyah “ aku tadi lihat di kota kak, memang ada apa? bukan kah tadi kakak bilang mungkin aku hanya salah lihat!” kata Syaina “ Ini sungguh berbeda Syaina, aku memiliki saudara kembar kemungkinan yang tadi siang kamu lihat adalah kakak ku. aku ingin bertemu dengan nya” “ Apa? kakak punya saudara kembar!” kata Syaina “ Iya, maka dari itu. Besok temani aku ke kota ya” ajak Aisyah “ Baiklah kak”

Keesokan harinya

“i want to go back to Indonesia now, oke see you next time” kata Fatimah kepada para wartawan Brazil. Dari kejauhan nampak Aisyah dengan mata berbinar penuh haru. “ Hallo ibu menteri” kata Aisyah dengan air mata yang tak tertahan lagi. “ ibu menteri? bahasa Indonesia? Aisyah?” ucap Fatimah dalam hati sebelum ia menoleh ke sumber suara. “ Aisyah, adik ku.Subhanaallah terimakasih ya Allah.” “ Kakak... terima kasih kak, kakak kni telah meraih impian langit ku” “ aku yang harus nya berterima kasih dek, karna kamu aku bisa seperti ini”. Akhirnya Aisyah dan Fatimah pulang ke Indonesia dengan membawa kabar yang begitu membahagiakan. Bukan hanya untuk mereka tapi juga untuk Syaina. “ Terima kasih Syaina”

Read more "Langkah Dua bidadari ^_^..."

Selasa, 15 Maret 2011

Dari ROHIS SMP 2 Depok menuju ROHIS Al-Jihad SMAN 1 Parung


Syuro siang ini, ibu pembina mengatakan sebuah kalimat yang sangat menusuk dalam kalbu ku. " ROHIS periode ini sungguh periode terburuk " Masyallah....... Apa gunanya aku di sini? Apa yang harus aku ubah? Dan apa yang harus aku pertahankan? Segala macam misi untuk menggapai visi ku telah di buat. Namun, dengan siapa aku akan melaksanakannya???? Ketika syuro tadi, aku merasa benar benar terpuruk dan merasa sangat teramat tak berguna. Andai kan aku di izinkan Allah tetap ada di Depok, pasti tidak akan terjadi seperti ini. Andai aku tetap di Depok, pasti banyak akhwat akhwat yang menolong ku, dan memberikan kekuatan bagi ku. Andaikan aku tetap di Depok, senyuman pasti akan selalu menyertai syuro ku..... Andai andai dan andai, kata andai itu tidak ada. aku pasti kuat dalam menjalani perjuangan ku ini. Ketika rasa rindu ini muncul, satu kekuatan ku. " Pengalaman" dari pengalaman itu lah aku belajar, insyallah bekal ku semasa SMP dulu dapat ku gunakan. Terima kasih ROHIS SMPN 2 Depok, yang telah memberikan pengalaman yang sungguh berarti dalam hidup ku. Maaf , ketika SMP dulu aku tak dapat berbuat apa apa . Hanya dapat membisu, dengan seribu tekad ku. " AKU YAKIN, SMA NANTI INSYAALLAH AKU BISA MEMBUAT PERUBAHAN UNTUK KEMAJUAN ISLAM" itulah tekad yang membuat ku terus bersemangat. Ibu pembina, Insyaallah tahun depan tahun perjuangan aku dan teman teman, kami akan menunjukan bahwa ROHIS kami akan bangkit. ROHIS kami insyaallah akan memberikan contoh yang terbaik bagi para siswa ^_^ Read more "Dari ROHIS SMP 2 Depok menuju ROHIS Al-Jihad SMAN 1 Parung..."

Senin, 28 Februari 2011

Wanita- wanita Istimewa



by ARtikeL, reNungaN, kisaH mOtifasi on Friday, February 11, 2011 at 7:31pm

Bismillahirrahmanirrahim.

1. Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu Anha.Khadijah adalah wanita special,karna Rasulullah tidak pernah menikahi wanita lain sampai Khadijah wafat. Sepeninggalan Khadijah,Rasulullah sering kali memuji-muji namanya dan memberi hadiah pada teman-teman nya. Suatu saat,Ummu Azfar,tukang sisir Khadijah,mengunjungi rumah beliau. Maka beliau menyambutnya dengan gembira seraya bersabda :“ Ini adalah kenangan indah kami semasa Khadijah hidup,dan indahnya masa keimanan “ (Hr. Ahmad )

2. Saudah binti Zam’ah Radhiyallahu Anha.Beliau adalah mantan istri As-Sakran bin Amr. Mereka masuk islam dan hijrah ke negri Habasyah,kemudian sang suami meninggal dunia. Lalu Rasulullah Alaihi Wasallam menikahinya dan mengajaknya hijrah ke Madinah.

3. Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu Anha.Rasulullah menikahinya ketika berumur enam tahun. Rasulullah Alaihi Wasallam tinggal serumah dengan Aisyah ketika Aisyah berumur sembilan tahun. Walaupun ada beberapa riwayat yang mengatakan tentang usia perkawinan Aisyah,ada yang sembilan tahun,dua belas tahun maupun yang enam tahun. Rasulullah tidak menikah dengan perawan kecuali pada Aisyah.

4. Hafshah binti Umar Radhiyallahu Anha.Beliau adalah mantan istri Hunais bin Hudzafah. Mereka hijrah ke Madinah,lalu suaminya meninggal. Kemudian,Rasulullah menikahinya. Selang beberapa waktu,beliau menceraikannya dengan satu talak. Lalu jibril,menyampaikan wahyu pada beliau. “ Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk rujuk dengan hafshah,karna dia adalah wanita yang sering berpuasa dan kuat ibadahnya.” Maka Rasulullah pun rujuk kembali. Namun menurut sumber yang lain,Rasulullah hendak menceraikannya,tapi tidak jadi melakukannya.

5. Ummu Salamah Radhiyallahu Anha.Nama aslinya adalah Hindun binti Abu Umayyah. Beliau adalah mantan istri Abu Salamah yang meninggal pada tahun 4 hijriah. Kemudian Rasulullah menikahinya.

6. Ummu Habibah Radhiyallahu Anha.Nama asli beliau adalah Ramlah binti Abu Sufyan,mantan istri Ubaidillah bin Jahsy. Mereka hijrah ke negri Habasyah. Namun Ubaidillah menjadi penganut nasrani. Kemudian Rasulullah Alaihi Wasallam mengutus Amr bin Umayyah kepada Raja Habasyah agar menikahkan Ummu habibah dengan Rasulullah Alaihi Wasallam.

7. Zainab binti Jahsy Radhiyallahu Anha.Beliau adalah istri Zaid bin Haritsah,lalu Zaid menceraikannya. Kemudian Rasulullah Alaihi Wasallam menikahinya.

8. Zainab binti Khuzaimah Radhiyallahu Anha.Mulanya beliau adalah istri Ath Thufail bin Al Harits. Ath Thufail menceraikannya. Lalu beliau menikah dengan saudaranya Ath Thufail yaitu Abdah bin Al Harits. Abdah meninggal syahid dalam peperangan . Kemudian Rasulullah Alaihi Wasallam menikahinya.

9. Shafiah binti Huyai Radhiyallahu Anha.Beliau adalah istri dari Kinanah bin Al Rabi’,namun Kinanah terbunuh dalam peperangan Khaibar. Lalu Shafiah menjadi tawanan dan budak. Beliau pun masuk islam. Maka Rasulullah memerdekakan beliau sebagai mahar pernikahan mereka.

10. Raihanah binti Zaid Radhiyallahu Anha.Beliau adalah seorang budak,Rasulullah lalu membelinya dari Bani An Nadhir,lalu memerdekakannya dan menikahinya.

11. Maimunah binti Al Harits Radhiyallahu Anha.Rasulullah menikahinya di Syarif. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menakdirkannya bahwa dia meninggal di tempat yang akan di bangun Rasulullah Alaihi Wasallam.

12. Maria Al Qibtiyah.Beliau adalah seorang budak yang di hadiahkan oleh Raja Al Muqauqis untuk Rasulullah Alaihi Wasallam. Beliau adalah salah satu istri Rasulullah. Darinya Rasulullah Alahi Wasallam memiliki seorang putra bernama Ibrahim.

Ibnul Jauzy menjelaskan bahwasannya ada beberapa wanita lainya yang Rasulullah nikahi namun tidak mengumpulinya. Ada pula Rasulullah mengkhitbah beberapa wanita namun tidak jadi di nikahi.

Wallahu’alam bi Shawwab.

Sumber : Al Wafa ( Ibnul Jauzi )

Read more "Wanita- wanita Istimewa..."

arti waktu


Untuk menyadari arti 1 tahun

tanyakan kepada pelajar yang gagal naik kelas

Untuk menyadari arti 1 bulan

tanyakan kepada ibu yang melahirkan bayi prematur

Untuk menyadari arti 1 minggu

tanyakan kepada editor majalah tabloid mingguan

Untuk menyadari arti 1 jam

tanyakan kepada kekasih yang menunggu sang pacar

Untuk menyadari arti 1 menit

tanyakan kepada orang yang ketinggalan kereta/pesawat

Untuk menyadari arti 1 detik

tanyakan kepada orang yang lolos dari kecelakaan maut

Untuk menyadari arti 1 milidetik

tanyakan kepada pelari peraih mendari 'perak' olimpiade

Hargai setiap waktu dalam hidup anda

waktu bagaikan uang yang hanya dapat dibelanjakan 1 kali saja dalam hidup

Ingat, Waktu tak dapat menunggu kita......

Read more "arti waktu..."

Jangan bongkar AIB saudara mu!!!!


by ARtikeL, reNungaN, kisaH mOtifasi on Monday, February 28, 2011 at 12:11pm

Ketika mendengar sebuah berita "miring" tentang saudara kita, apa reaksi kita pertama kali ? Kebanyakan dari kita dengan sadarnya akan menelan berita itu, bahkan ada juga yang dengan semangat meneruskannya kemana-mana.

Kita ceritakan aib saudara kita, sambil berbisik, "sst! ini rahasia lho!". Yang dibisiki akan meneruskan berita tersebut ke yang lainnya, juga sambil berpesan, "ini rahasia lho!"

Kahlil Gibran dengan baik melukiskan hal ini dalam kalimatnya, "jika kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan angin bila ia kabarkan pada pepohonan."

Inilah yang sering terjadi. Saya memiliki seorang rekan muslimah yang terpuji akhlaknya. Ketika dia menikah saya menghadiri acaranya. Beberapa minggu kemudian, seorang sahabat mengatakan, "saya dengar dari si A tentang "malam pertamanya" si B." Saya kaget dan saya tanya, "darimana si A tahu?" Dengan enteng rekan saya menjawab, "ya dari si B sendiri! Bukankah mereka kawan akrab…"

Masya Allah! rupanya bukan saja "rahasia" orang lain yang kita umbar kemana-mana, bahkan "rahasia kamar" pun kita ceritakan pada sahabat kita, yang sayangnya juga punya sahabat, dan sahabat itu juga punya sahabat.

Saya ngeri mendengar hadis Nabi : "Barang siapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya."

Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, "Maha Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk."

Jangan bongkar aib saudara kita, supaya Allah tidak membongkar aib kita. "Ya Allah tutupilah aib dan segala kekurangan kami di mata penduduk bumi dan langit dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah"

Insya Allah, Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya Read more "Jangan bongkar AIB saudara mu!!!!..."

True story..... ^_^

Aku Mencintaimu......

Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

***

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..

Pernikahan kami sederhana namun meriah…..

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.

***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.

Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”

lebih baik kau pulang saja, ada

kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja.

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?

Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang

Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?

Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.

Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

***

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..

Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

***

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.

Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.

Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

***

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.

Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?

MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau

kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.

Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?

Suamiku menjawab, ”Dia Desi!

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.

Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?

Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!

Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku

save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

Apakah kamu sudah siap?

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

***

Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?

Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***

Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..

Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

=====================================================

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.

Aku sangat marah..

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan

ibunya..

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..

Engkau Maha Adil..

Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri.

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.

Ayah.. aku kangen ayah..

=====================================================

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..

Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.

Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?

Tunggulah Ayah disana Bunda..

Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..



Read more "True story..... ^_^..."
 

Entri Populer

Free Blog Templates

Powered By Blogger

Mengenai Saya

Foto saya
Assalamualaikum wr wb. hallo hallo.... nama ku Hana Zahira Syarif,temen-temen biasa panggil aku Hana,,,skarang aku tercatat sebagai siswi di SMPN 2 Depok,,,ohhh maaf sudahh alumni... hehehe sekarang aku sekolah di SMAN 1 Parung.... tunggu cerita-cerita ku di SMA ya...

Blog Tricks

Powered By Blogger

Easy Blog Tricks

Powered By Blogger

Great Morning ©  Copyright by Melody zaHira...... | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks